Robin Hood Bukan Pahlawan: Kisah Brutal Sang Bandit yang Terlupakan, Dihidupkan Kembali dengan Kejam

(SeaPRwire) –   By: Oliver Hawthorne, a Principal Correspondent permanently stationed at an international technology review

Film “The Death of Robin Hood” karya Michael Sarnoski hadir sebagai sebuah anomali di tengah hiruk pikuk musim panas. Pengaturan dingin dan bersalju terasa janggal untuk era blockbuster. Film ini juga membawa kembali gaya penceritaan yang sempat meredup sepuluh tahun lalu. Namun, Sarnoski, yang piawai mengubah genre film menjadi drama karakter introspektif, berhasil mengangkat kisah Robin Hood yang kelam ini melampaui premis “bagaimana jika Robin Hood adalah orang jahat.”

Film ini berlatar bertahun-tahun setelah masa kejayaan Robin Hood dan para pengikutnya. Robin Hood kini hidup sendirian, terus-menerus dihantui oleh dendam orang-orang yang dicintainya ia bunuh. Robin Hood yang digambarkan di sini bukanlah pahlawan yang mencuri dari orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin. Ia adalah seorang pembunuh kejam yang merampok tanpa pandang bulu. Semua pertumpahan darah di masa lalu kini datang menagih. Adegan pembuka menunjukkan seorang gadis muda yang membeku kedinginan, mencoba membunuh Robin Hood yang sedang beristirahat di dekat api unggun. Robin Hood, yang diperankan Hugh Jackman dengan ketegasan yang mengingatkan pada perannya di “Logan,” membunuhnya. Ia telah menerima nasibnya untuk mati oleh salah satu utang darahnya.

Robin Hood berharap “kematian yang baik.” Namun, Little John (Bill Skarsgard), mantan tangan kanannya, datang meminta bantuan. Little John telah membangun kehidupan baru sebagai petani, memiliki istri dan anak. Namun, keluarga petani yang ia bunuh untuk mengambil alih lahan mereka menyandera keluarganya. Robin Hood terpaksa setuju untuk satu misi terakhir. Mereka menyerbu pertanian itu, namun istri Little John tewas, dan Robin Hood terluka parah. Melawan keinginan Robin Hood, Little John membawanya ke sebuah biara terpencil. Di sana, Suster Brigid (Jodie Comer) memberinya kesempatan kedua.

“The Death of Robin Hood” sebenarnya bukan cerita orisinal. Ini adalah interpretasi dari balada abad ke-17 yang kurang dikenal, “Robin Hood’s Death.” Balada itu menggambarkan Robin Hood meninggal dengan tenang di biara setelah ritual pengobatan yang salah. Sarnoski, yang menulis dan menyutradarai film ini, mengambil alur cerita yang tidak biasa ini. Ia mengubah hari-hari terakhir Robin Hood menjadi eksplorasi puitis yang suram tentang siklus kekerasan dan balas dendam.

Paruh pertama film ini terasa sangat lugas. Nada muram, atmosfer kelam, dan adegan kekerasan yang sering muncul mengingatkan pada gaya Robert Eggers. Namun, sinematografi Pat Scola yang artistik, dengan lanskap Inggris yang diselimuti kabut tebal dan bayangan pekat, membedakannya. Ketika Robin Hood pulih dari luka parahnya, cahaya matahari tiba-tiba menerangi setiap adegan. Adegan bersama Jodie Comer yang memberikan penampilan penuh kerinduan dan kelembutan, menciptakan suasana komune yang damai. Ada anak-anak berlarian, hutan yang penuh kelinci, dan seorang pertapa misterius (Murray Bartlett) yang menjaga biara.

Di sinilah Sarnoski menemukan gayanya. Film ini melampaui premis kelamnya. Robin Hood, yang selalu dalam pelarian, dipaksa untuk berhenti. Terluka dan menjadi pelindung seorang gadis kecil, Robin Hood harus melepaskan persona prajuritnya. Ia belajar menjadi manusia lagi. Inilah keajaiban Sarnoski: membongkar trope genre yang sudah usang, baik itu pahlawan legendaris, penyintas pasca-apokaliptik, atau petani yang kuat. Ia menemukan kemanusiaan yang melekat pada mereka. Jackman menikmati peran kompleks ini. Melalui dinamika Jackman dan Comer, keduanya menyembuhkan luka masa lalu, nada film yang suram terasa ringan. Film ini tidak memberikan akhir yang bahagia. Namun, ada katarsis aneh dalam pertemuan jiwa-jiwa yang tersiksa ini. Sarnoski berhasil menciptakan sosok tragis dari Robin Hood, pahlawan yang paling dikenal karena kostumnya. Hollywood kesulitan mengadaptasi Robin Hood untuk audiens modern. Sarnoski mungkin telah menemukan kuncinya dengan versi paling subversif: Robin Hood yang bukan pahlawan, bukan pula penjahat, tetapi sekadar manusia.

Author bio: Oliver Hawthorne, a Principal Correspondent permanently stationed at an international technology review, offers sharp, analytical perspectives on the evolving tech landscape, cutting through marketing jargon to reveal underlying industry dynamics.