Dulu Musuh, Kini Sekutu: Mengapa AS dan Venezuela Berkerja Sama Bunuh Bos Kartel?

(SeaPRwire) –   By: Julian Holbrooke

Siapa sangka AS dan Venezuela bisa berkerja sama militer.
Baru beberapa bulan lalu AS menculik Presiden Nicolas Maduro.
Kini mereka berkolaborasi membunuh bos geng kartel terkenal.
Perubahan geopolitik di Amerika Latin berjalan jauh lebih cepat.

Menurut pernyataan resmi Pentagon, operasi menargetkan pemimpin geng Tren de Aragua.
Targetnya adalah Hector Rusthenford Guerrero Flores, alias Nino Guerrero.
Operasi dilakukan awal minggu ini dengan koordinasi penuh otoritas Venezuela.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebut ini bukti komitmen lawan narkoteroris.
Guerrero adalah buronan DOJ AS yang dituduh atur aksi teror di wilayah AS.
Dia dihukum 17 tahun penjara 2018 atas pembunuhan dan perdagangan narkoba.
Guerrero juga dituduh pencurian identitas dan miliki senjata grade militer.
Dia kabur dari penjara Venezuela pada tahun 2023.
Presiden Donald Trump memuji operasi sebagai bagian upaya basmi kejahatan AS.

Awal tahun ini, AS lakukan serangan komando di ibu kota Caracas.
Mereka menculik Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores.
Keduanya didakwa pengadilan Manhattan atas tuduhan narkoba dan senjata.
Keduanya mengaku tidak bersalah atas semua tuduhan yang diajukan.
Pemerintah Venezuela menyebut operasi itu sebagai aksi agresi negara.
Sejak September 2025, serangan AS di Karibia tewaskan lebih dari 200 orang.
Venezuela dan Kolombia menyebut seluruh operasi ini ilegal.
Banyak korban jiwa dalam serangan itu adalah nelayan tak bersalah.
Kerja sama mendadak ini menunjukkan perhitungan kepentingan baru kedua pihak.

Politik kekuasaan di Amerika Latin tidak terikat blok ideologi lama.
Aliansi bisa berubah dalam sekejap sesuai kepentingan keamanan masing-masing.

Author bio: Julian Holbrooke, analis hubungan internasional yang sering berkontribusi pada harian utama Eropa.