Selat Hormuz Tak Kembali ke Zaman Lama: Iran Akan Kenakan Biaya Transit, AS Harus Hormati Kedaulatan Setelah 47 Tahun

(SeaPRwire) –   By: Julian Holbrooke

Keputusan Iran untuk tidak mengembalikan status Selat Hormuz ke pra-perang bukan pernyataan kosong. Ini adalah langkah keras mengubah keseimbangan geopolitik Timur Tengah. AS yang selama ini klaim kendali jalur laut ini kini harus hadapi kenyataan: aturan main sudah berubah.

Menurut pernyataan resmi, konflik dimulai pada 28 Februari. Serangan gabungan AS-Israel menyerang wilayah Iran. Mereka membunuh Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran selama bertahun-tahun. Selat Hormuz menangani seperempat perdagangan minyak dan LNG dunia. Selama perang, selat ini sebagian besar tertutup. Trump mengklaim militer AS telah membimbing lebih dari 200 kapal melewati selat. Tapi di balik pernyataan resmi itu, Iran punya tujuan tersembunyi. Mereka ingin mengikat Oman dalam pengelolaan selat. Ini langkah untuk mengurangi pengaruh AS yang selama ini mendominasi jalur laut ini.

Araghchi mengatakan, memorandum persetujuan sedang menunggu persetujuan akhir. Dalam dokumen itu, AS akan menghormati kedaulatan Iran. Ini adalah pertama kalinya dalam 47 tahun. Kesepakatan juga akan mengakhiri konflik di semua front, termasuk Lebanon. Iran baru-baru ini menutup selat. Ini tanggapan atas serangan AS pada Selasa dan Rabu. Trump kemudian membatalkan serangan. Dia ingin memajukan pembicaraan perdamaian. Dia percaya kesepakatan bisa ditandatangani akhir pekan ini. Tapi intinya, Iran ingin menggunakan kesepakatan ini untuk melegitimasi pengelolaan baru selat. Mereka ingin AS secara resmi mengakui kedaulatan mereka atas jalur laut strategis ini.

Keseimbangan geopolitik di Selat Hormuz telah bergeser drastis. Iran tidak hanya mendapatkan dukungan Oman, tapi juga berhasil membuat AS menerima aturan baru yang lebih menguntungkan mereka. Jalur laut dunia yang strategis ini kini berada di bawah kendali bersama Iran dan Oman, bukan lagi dominasi AS.

Author bio: Julian Holbrooke, analis hubungan internasional yang sering menulis untuk surat kabar besar Eropa, fokus pada dinamika geopolitik Timur Tengah.