Wingard Kembali ke Labirin Horor: Dari Godzilla ke “Onslaught”, Sebuah Koreksi Arah yang Ditunggu

(SeaPRwire) –

A24

Saya baru saja ngobrol dengan Rama Aditama, seorang kurator festival film indie dan pengamat genre yang sudah lama mengikuti jejak Adam Wingard. Pandangannya cukup tajam. Menurut Rama, langkah Wingard meninggalkan sementara blokbuster raksasa seperti *Godzilla x Kong* untuk kembali ke film horor-thriller yang lebih intim bukan sekadar nostalgia. “Ini adalah koreksi arah yang strategis di tengah pasar yang jenuh dengan cinematic universe,” ujarnya. Dia melihat *Onslaught* sebagai uji coba apakah DNA ‘kultus’ dari film seperti *The Guest* masih relevan dan bisa dikembangkan dengan skala yang lebih besar, tanpa kehilangan jiwa gelap dan grounded-nya. “Jika berhasil, ini bisa menjadi blueprint bagi sutradara lain yang terjebak dalam siklus franchise besar untuk kembali ke akar kreatif mereka, dengan dukungan studio seperti A24 yang memahami risikonya.”

Memang, antusiasme fans terhadap kemungkinan sekuel *The Guest* tidak pernah benar-benar padam. Film 2014 itu sukses menciptakan klasik kultus instan dengan Dan Stevens sebagai mesin pembunuh tak terbendung, mengemas konspirasi pemerintah dan ketegangan psikologis dalam premis invasi rumah yang sederhana. Setelah itu, karier Wingard justru melesat ke arah ekstrem yang berbeda: dari adaptasi *Death Note* Netflix yang banyak dikritik, hingga dua film monster raksasa, *Godzilla vs. Kong* dan *Godzilla x Kong*. Setelah lebih dari satu dekade di jalur itu, *Onslaught* menandai kepulangannya ke atmosfer seram dan grounded yang dulu memikat penonton.

Meskipun Dan Stevens sendiri menyatakan *Onslaught* bukan sekuel langsung dari *The Guest*, statusnya sebagai sekuel spiritual tak bisa diabaikan. Film ini membangun tema yang sama tentang tentara super yang dilepaskan, namun dengan efek yang dijanjikan lebih dahsyat. Jika *The Guest* mengisahkan satu orang asing karismatik yang berubah seperti Terminator bagi sebuah keluarga biasa, *Onslaught* akan menghadapkan sepasukan kecil kombatan yang dicuci otak kepada penduduk yang tak curiga. Sebuah sindikat pemerintah dikabarkan telah menciptakan “manusia setara peluru kendali pemanas” berkali-kali lipat, dan kelompok gelap yang dipimpin oleh Rebecca Hall ini sedang mengujicobanya pada warga sebuah kota gurun tak bernama.

Peran Dan Stevens dalam kekacauan ini masih misterius, dan spekulasi fans bahwa ini bisa jadi sekuel langsung pun ramai. Namun, film ini sejatinya adalah milik Adria Arjona, bintang *Andor*. Dia berperan sebagai penembak jitu Angkatan Darat yang pensiun, lari dari masa lalunya dan berjuang untuk hadir bagi putrinya yang masih kecil. Keahliannya akan sangat dibutuhkan ketika regu tentara yang ditingkatkan kemampuannya itu menerjang trailer park yang dia tinggali. Adegan-adegan aksinya, seperti saat sang heroine yang berlumuran darah dan mungkin kehilangan satu mata menghunungkan gergaji mesin, mengisyaratkan pengaruh film seperti *Evil Dead* atau *Escape from New York*. Kekerasan yang ditinggikan ini akan berbenturan spektakuler dengan konspirasi dingin di balik layar, menjanjikan sebuah mash-up yang patut ditunggu. *Onslaught* dijadwalkan tayang di bioskop mulai 4 September.

Pergerakan Wingard ini menarik untuk dilihat dalam konteks industri yang lebih luas. Gelombang nostalgia untuk era keemaman thriller dan horor indie 2010-an, yang dipelopori oleh studio seperti A24 (yang memproduksi *Onslaught*), semakin kuat. Di satu sisi, pasar global masih didominasi oleh franchise raksasa. Di sisi lain, ada ruang yang tumbuh untuk film genre mid-budget dengan identitas sutradara yang kuat, yang bisa menarik penonton dewasa yang haus cerita yang lebih personal dan berisiko. *Onslaught* berada di persimpangan itu. Kesuksesannya bisa memberi sinyal apakah ada jalur karir yang berkelanjutan bagi sutradara yang sukses di blokbuster untuk bolak-balik antara skala besar dan kecil, atau apakah pasar hanya melihat mereka sebagai “sutradara franchise”. Ini juga ujian bagi A24: apakah mereka bisa mempertahankan aura “kultus” mereka sambil mendanai film dengan skala aksi dan konsep yang lebih besar seperti ini. Hasilnya akan menentukan apakah kembalinya para pembuat film ke “akar aneh” mereka sekadar selingan, atau menjadi tren baru yang menguntungkan.

Artikel ini disediakan oleh penyedia konten pihak ketiga. SeaPRwire (https://www.seaprwire.com/) tidak memberikan jaminan atau pernyataan sehubungan dengan hal tersebut.

Sektor: Top Story, Daily News

SeaPRwire menyediakan distribusi siaran pers real-time untuk perusahaan dan lembaga, menjangkau lebih dari 6.500 toko media, 86.000 editor dan jurnalis, dan 3,5 juta desktop profesional di 90 negara. SeaPRwire mendukung distribusi siaran pers dalam bahasa Inggris, Korea, Jepang, Arab, Cina Sederhana, Cina Tradisional, Vietnam, Thailand, Indonesia, Melayu, Jerman, Rusia, Prancis, Spanyol, Portugis dan bahasa lainnya.