AS Ganti Perang Dingin Baru dengan Strategi Realisme—Apakah Ini Bisa Bikin Beijing Setuju?

(SeaPRwire) – By: Julian Holbrooke
Kehadiran pimpinan militer teratas China yang hilang di Dialog Shangri-La tahun ini membuat banyak orang spekulasi tentang hubungan AS-China yang memburuk. Tapi yang lebih penting terjadi di luar ruang konferensi: beberapa jam sebelumnya, pejabat militer AS dan China bertemu di Hawaii untuk diskusi keamanan maritim. Ini tanda AS beralih ke strategi yang lebih realistis, jauh dari perang dingin baru.
Fakta resmi: Secretary of Defense Pete Hegseth dalam speechnya di Shangri-La mengatakan AS telah meninggalkan kebijakan luar negeri globalis lama. Dia menyebutnya “tidak berdaya, utopis, dan globalis”. Inti sebenarnya: AS tidak lagi berusaha mempromosikan nilai universal. Strateginya sekarang berbasis realisme dan keseimbangan kekuatan.
Fakta resmi: Strategi Pertahanan Nasional AS yang baru mencantumkan empat prioritas, termasuk mendeteksi China di Indo-Pasifik dan meningkatkan pembagian beban dengan sekutu. Inti sebenarnya: AS tidak ingin mengisolasi China. Dia ingin mencegah adanya hegemon regional. Taiwan tidak diutamakan dalam speech Hegseth—ini upaya mengelola kompetisi tanpa krisis.
China masih melihat modernisasi militer sekutu AS sebagai upaya pengurungan. Tapi strategi baru AS menunjukkan pergeseran dari dominasi ke keseimbangan. Apakah Beijing akan menerima? Itu tergantung pada bagaimana AS bisa menjelaskan niatnya dengan jelas, tanpa bahasa konfrontasional.
Author bio: Julian Holbrooke, analis hubungan internasional yang sering kontribusi ke surat kabar utama Eropa, fokus pada dinamika geopolitik Indo-Pasifik.
